Senin, 16 Mei 2011

Afirmasi Khusus Bagi Daerah dengan Persentase Ketidaklulusan Besar

Jakarta -Kementerian Pendidikan Nasional mengumumkan, sebanyak 1.450.498 siswa dari 1.461.941 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA), dan 938.043 siswa dari 942.698 siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) peserta ujian nasional, dinyatakan lulus.  Siswa tersebut berasal dari 16.835 SMA/MA dan 8.074 SMK baik negeri maupun swasta. Sehingga, ada 11.443 siswa SMA dan 4.655 siswa SMK yang dinyatakan tidak lulus.

Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh mengungkapkan hal itu saat memberikan keterangan pers di Gedung Kemdiknas, Jumat (13/05). Mendiknas mengatakan, kelulusan tahun ini  untuk SMA adalah 99,22 persen. Meningkat dari tahun lalu yaitu 89,93 persen pada ujian utama, dan 99,04 persen pada ujian ulang. Begitu juga dengan SMK mengalami kenaikan dari 99,20 persen pada tahun lalu, menjadi 99,51 persen pada tahun ini.

Tahun ini, persentase ketidaklulusan terbesar untuk tingkat SMA ada di Nusa Tenggara Timur yakni 5,57 persen. Adapun Bali memiliki persentase ketidaklulusannya terkecil yakni 0,04 persen.

Sedangkan untuk SMK, persentase ketidakkelulusan terbesar terjadi di Sulawesi Tengah yakni 4,83 persen. Dan Provinsi Sumatera Selatan persentase kelulusan terbesar yakni 0,03 persen.

Mendiknas menyampaikan, tahun ini ada lima SMA  yang persentase kelulusannya nol. Sekolah-sekolah tersebut masing-masing berada di Provinsi DKI Jakarta dengan jumlah siswa tujuh orang, di Provinsi Jambi dengan jumlah siswa dua orang, di Kabupaten Simeulue Aceh dengan jumlah siswa 26 orang,  di Kabupaten Kian Darat Maluku dengan jumlah siswa 48 siswa, dan di Kabupaten Urei Fasei Papua dengan jumlah siswa 64 orang. Untuk SMK, Mendiknas mengatakan tidak ada sekolah yang persentase kelulusannya nol.

Berdasarkan hasil UN tahun ini, pemerintah akan memberikan afirmasi khusus kepada daerah-daerah yang memiliki persentase ketidaklulusan terbesar dalam meningkatkan mutu pendidikan daerahnya. NTT merupakan provinsi yang memiliki keterbatasan sumberdaya. Oleh karena itu, bentuk afirmasi pemerintah adalah dengan memberi bantuan khusus dari segi sumberdaya untuk peningkatan pendidikan di NTT. "Nanti kita lihat, kalau disana kurang dananya maka akan kita berikan dana bantuan khusus. Begitu juga dengan gurunya, kalau gurunya kurang dan belum bersertifikasi, maka kita akan membantu dalam sertifikasinya," katanya. (aline)
Sumber : Kemendiknas RI

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates